.

Sinopsis Oh My Venus Episode 14 Part 1

Sinopsis Oh My Venus Episode 14 Part 1


Young Ho berbaring di rumah sakit dengan tangan masih di gips, dalam mimpi mendengar panggilan Joo Eun yang memanggilnya John Kim. Teringat kembali kenangan saat melakukan latihan bersama dan dengan sengaja mencium Joo Eun. Lalu saling tarik menarik dan mengangkat Joo Eun dengan kakinya.


Joo Eun mengodanya dengan memberikan lemparan lesum pipitnya yang membuat hatinya luluh. Sebelumnya Joo Eun mengomel kalau yang dipakainnya itu adalah “Korset. Korset!” Kepala Young Ho terlihat sedikit bergerak dalam tidurnya. Ketika natal, Joo Eun mencari-cari Young Ho dan tiba-tiba ia datang sambil memeluk pacarnya. Setelah itu keduanya duduk dengan kepala Joo Eun bersandar di pundaknya.


“Aku akan memberikanmu malam yang menyenangkan dan erotis.” Kata Joo Eun dengan kedipan mata mengoda. Pesan Joo Eun terdengar “Apa rasanya sangat sakit?Aku akan datang menemuimu.”

Young Ho membuka matanya, samar-samar terlihat langit-langit lalu lampu yang bersinar terang.

“Sudah berapa hari aku terus menatap langit yang sama? Hari saat aku sangat merindukannya membuat hatiku lebih sakit dibandingkan badanku,rasanya seperti sudah bertahun-tahun.” Gumam Young Ho.

Young Ho mengingat saat pertama kali Joo Eun melihatnya kesakitan ikut menangis,

“Tapi, sekali lagi, aku tak ingin melihat dia menangis karena aku.”

Joo Eun tetap menunggu Young Ho sampai keluar dari kamar rahasianya, menanyakan keadaaan pacarnya. Ia hanya berkata karena sudah ketahuan makan membuat dirinya terlihat tidak sexy lagi. Joo Eun kembali menangis. Ketika identitas John Kim terbongkar, Joo Eun memeluknya untuk pergi ke luar angkasa miliknya.
“Hari saat aku tinggal di luar angkasa, di mana dia berada dan kembali.”

Young Ho menegakan tempat tidurnya tangannya dengan lihai mulai merajut.


Flash Back

Young Ho kecil memakai ring dengan besi-besi ditancapkan ke kakinya dan duduk dikursi roda, melakukan hal yang sama merajut dengan benang warna Pink, Ketua Min datang melihat Young Ho kecil sangat terampil merajut. Young Ho menyapa Ketua Min sambil menanyakan keberadaan ibunya.

Ketua Min memberitahu kalau ibunya sedang rapat dan akan terlambat pulang, lalu bertanya apakah itu hadiah untuk ibunya. Young Ho mengangguk lalu kembali meyakinkan kalau ibunya agar segera pulang kerumah. Ketua Min menganguk dengan senyuman.


Dimalam harinya, Tuan Kim melotot kaget mendengar berita dari Ketua Min, sebelumnya mereka sudah mengantar Ibu Young Ho ke rumah sakit tapi nyawanya tak dapat diselamatkan. Young Ho hanya bisa menahan tangis dibalik dinding mengetahui ibunya meninggal.

Young Ho terus merajut, bayangan dirinya juga terlihat ketika duduk dikursi roda melakukan hal yang sama.

Hye Ran dan Young Joon berjalan dilorong rumah sakit, Ketua Min menyapanya sambil menanyakan keadaan Hye Ran terlihat sudah sembuh. Hye Ran mengatakan tujuan datang hanya ingin tahu bagaimana kondisi Young Ho setelah itu akan pergi. Ketua Min menjelaskan  Young Ho masih harus istirahat penuh. Hye Ran mengangguk mengerti tak bisa menemuinya.

“Aku tak bisa begitu saja pergi... Setidaknya dengan keadaan ini, sekali lagi aku ingin mengucapkan maaf.” Kata Hye Ran, Young Joon tertunduk sedih  


“Aku akan memberitahu dia.” Ucap Ketua Min

“Dan juga untuk ibu mertua, maaf tak bisa menemuinya. Sampaikan maaf karena aku sudah tak becus dalam menjaga, Ketua dan Direktur sesuai dengan janjiku. Tolong beritahu ayahnya.” Kata Hye Ran lalu pamit pergi, Ketua Min ikut sedih melihat kepergian Hye Ran dan anaknya. 


Didalam kamar Young Ho terus merajut dan lama kelamaan bosan, akhirnya melihat buku yang diberikan Joo Eun berjudul “Dating Cafetaria.” Teringat kembali saat Joo Eun memberikan buku di meja kamarnya dan pesan dikirimkan pada ponselnya.

“Untuk Young Ho yang punya pacar secantik dan sepintar Daegu Venus, kau harus belajar lebih romantis lagi.”

Malam harinya, Joo Eun menaruh buku di buffet dan memegang tanganya, sebelum pindah rumah. Malam berikutnya, ia datang kerumah Joo Eun memberikan back hug dan berkomentar kalau Dating Cafeteria meman mirip dengannya, lalu mengejek kenapa tak sekalian Dating Restaurant atau Dating Buffet saja. Ketika akan pulang, Joo Eun mengeluh dengan nasih percintaanya lalu memberikan kecupan dibibirnya dan memperbolehkan pulang kerumah.


Young Ho tersenyum mengingat kenangannya, lalu mulai membuka lembaran pertama tertulis “Saat ketidak hadiran orang itu mencekikmu.” Ia sempat terdiam sejenak lalu kembali membuka lembaran berikutnya, helaan nafas terdengar setelah membaca “Setelah "Selamat Tinggal" terucap, waktu bukanlah sesuatu yang mengalir begitu saja, tapi harus dihadapi.”

Terikan Joo Eun terdengar ditelinganya  “Aku sudah memberitahu ibuku. Dasar dan “Kau membuat tekananku turun saja!” matanya melirik melihat Joo Eun ada didepan memberikan senyuman manis dengan lesum pipinya dan wajah semakin tirus.

Young Ho buru-buru memalingkan wajahnya dan menutup kakinya yang masih diperban, Joo Eun melihatnya lalu memberikan pelukan, membisikan kalau semua akan baik-baik saja dan pacarnya akan segera sembuh. Young Ho menahan tangisnya menerima pelukan dari Joo Eun.

Joo Eun memberikan senyuman paling lembar seperti ingin memberikan kekuatan untuk pacarnya, Young Ho tetap memalingkan wajahnya seperti tak ingin Joo Eun melihat menangis, ketika melirik Joo Eun tak ada. Young Ho menyadari yang dilihat hanya bayangan, dengan menahan rasa sakit dan tangisnya mencoba mengangkat kakinya tapi tetap tak bergerak.

Akhirnya ia hanya bisa menangis sendirian melihat keadaanya sekarang yang tak bisa berjalan, buku Dating Cafetaria terbuka dengan lembaran bergambar kotak P3K bertuliskan “Tidak apa-apa. Kau akan segera sembuh Kau akan baik-baik saja.” Seperti halusinasi Young Ho kalau Joo Eun mengucapakan kalimat itu padanya.

Mei 2015.
Pintu kamar terbuka, Ketua Min mendorong kursi roda dengan Young Ho yang duduk dengan kaki kiri disanggah agar tetap lurus. Young Ho tiba-tiba meminta berhenti didepan pintu ruangan, melihat ruangan yang selama ini ditempatinya dan akan keluar dari ruangan itu. Pintu pun ditutup oleh pengawal. Young Ho melihat ada plester tertempel di pintu.

Flash Back

Joo Eun menempelkan plester di pintu sebelum berbicara Young Ho, sambil menangis berpesan agar Young Ho harus kembali menjadi tampan dan seksi lagi.

“Kau harus Ingat itu. Karena kau masih belum mencapai batasmu. Jika kau yakin, kau bisa melakukannya.”


Young Ho memegang plester yang ditempelkan Joo Eun untuknya dan menahan tangis. Ketua Min berpikir Young Ho akan membutuhkannya jadi dengan sengaja ia tak pernah menghilangkannya. Young Ho melepaskan plester dan menempelkan pada punggung tanganya lalu mengejek Ketua Min yang sekarang bisa membaca pikiran orang. Ketua Min memberikan sedikit senyuman, Young Ho pun mengajak untuk mereka berangkat sekarang. Ketua Min mendorong kursi roda menyusuri lorong untuk keluar dari rumah sakit.

Foto CT Scan bagian tulang Young Ho terlihat dilayar, Dokter menjelaskan karena Young Ho sangat baik merawat kesehatannya, jadi dalam 6 bulan  semua tulangnya sudah sembuh, tapi kehilangan banyak massa otot dankarena luka yang parah pada kakinya, kemungkinan tidak akan bisa berjalan selancar seperti dulu.

“Apa Tak ada kemungkinannya sama sekali?” tanya Tuan Kim berusaha untuk tegar mendengarnya.

“Kalau itu, aku masih belum bias menjamin apa-apa. Kemungkinannya sangat kecil” kata Dokter sedikit gugup.

“Kau juga mengatakan hal yang sama dulu. Penyembuhan tulang dan dagingnya adalah sebuah keajaiban.” Tegas Tuan Kim melirik dokter Young Ho

“Kita harus berdoa keajaiban itu terjadi lagi.” Kata Dokter


Tuan Kim menatap dokter dalam-dalam seperti ingin keajaiban itu datang lagi, lalu bersama-sama meminum teh. Dokter membahas mengenai pengobatan kanker yang diderita Tuan Kim kalau ia akan segera menyiapkanya. Tuan Kim hanya terdiam tanpa banyak komentar sambil meminum tehnya. 


Young Ho didorong melewati lorong rumah sakit oleh Ketua Min, beberapa pasien terlihat pasien yang sedang berjalan perlahan dengan memegang pinggir pembatas, pasien lain juga lewat dengan tiang infus untuk menghilangkan rasa bosan, seorang nenek didorong dengan kursi roda.


“Setelah berada di rumah sakit cukup lama,sudah berapa banyak orang yang sakit di dunia ini Tak peduli sedikit atau banyaknya, karena pada akhirnya kita semua akan jatuh sakit. Jadi, jangan menangis...Kita bisa hidup dengan terus bertahan” gumam Young Ho melihat semua pasien lalu lalang didepanya.

Young Ho sampai dibandara dengan kaki yang ditutup oleh selimut,ingatan kembali saat melihat bayangan dirinya ketika kecil diantar oleh neneknya ke bandara dengan Ketua Min yang mendorong kursi roda.


Ketua Min juga merasakan hal yang sama, sempat tertunduk mengingat kejadian yang sama ketika Young Ho kecil, lalu mendorong kursi roda untuk meninggalkan korea. Young Ho kembali mengingat pesan Joo Eun “Kau harus kembali menjadi tampan dan seksi lagi.” Pesawat tinggal landas membawa Young Ho kembali ke Amerika.

Di Amerika

Young Ho berjalan diatas treadmil dengan tali menyanggah badan dan juga kakinya seperti robot, salah seorang perawat bule memantau pergerakan kakinya dan keringat bercucuran keluar di wajah Young Ho. Setelah itu melakukan angkat beban dibagian kakinya, perawat memberitahu kalau itu baru tahap awal. Young Ho terlihat berusaha keras untuk mengangkat walaupun hanya sedikit.

Perawat menjelaskan pada seorang pelatih kalau Young Ho membuat perubahan yang signifikan dalam tiap kategori. Young Ho duduk diatas kursi roda dengan luka jahitan terlihat melebar. Pelatih mencoba mengangkat Young Ho dari kursi roda dan tangan Young Ho memang tali agar bisa menahan badanya untuk berdiri.

Tapi Young Ho tak bisa menahan tubuhnya dan terjatuh, pelatih kembali membantu Young Ho untuk berdiri dan tangan Young Ho kembali memegang tali untuk bertahan dan Young Ho kembali terjatuh. Hari berikutnya Young Ho juga belum bisa menahan tubuhnya.Bagian kaki dipasang alat untuk yang disambungkan dengan tali berbahan pegas, pelatih menarik Young Ho dengan kaki terserat, Young Ho menjerit merasakan bagian kakinya terasa sakit.

Setelah selesai melakukan latihan, Young Ho bisa mengangkat badanya ke tempat tidur dan juga kakinya yang lumpuh, lalu menganjalnya dengan bantal bentuk segitiga pada kaki kananya.

Ia mengambil ponsel terlihat ada ratusan message yang masuk, dengan memalingkan wajahnya melihat pesan dari Joo Eun masuk 90 pesan yang belum dibaca, jarinya enggan untuk membukanya. Tanganya memilih untuk melihat kembali buku pemberian dari Joo Eun, sudah tertempel plester dibagian depan. Young Ho kembali merasakan saat Joo Eun menempelkan plester pada pintu ruang rawatnya dan menangis karena tak bisa melihat keadaanya.

“Aku sangat ingin menemuinya. Tapi, tidak sekarang.” Gumam Young Ho

Young Ho kembali melakukan latihan, kali ini mengangkat bagian kaki bekas operasi dan menahanya, terdengar jeritan saat pelatih menyuruhnya untuk mendorong kakinya. Latihan kedua, Young Ho menahan rasa sakit ketika harus mengangkat dua kakinya tapi hanya bisa sedikit saja. Di latihan menahan badanya, Young Ho bisa sedikit bertahan walaupun akhirnya jatuh. Keringat terus bercucuran untuk melatih otot-otot kakinya.

Ji Woong masuk kamar dengan wajah bahagia, membawakan piala berbentuk ban pinggang dan Joon Sung masuk dengan wajah penuh luka dan tangan di gips. Young Ho tersenyum bahagia melihat dua pria yang sudah dianggap adik olehnya, Ji Woong langsung naik ke atas tempat tidur dan memeluk Young Ho karena sudah lama tak bertemu.

Joon Sung terdiam melihat keadaan Young Ho tidak seperti dulu, Young Ho menyuruh Joon Sung mendekat memujinya kalau memang pria yang hebat dan berhasil mencapai impianya sebagai juara. Joon Sung bisa sedikit tersenyum walaupun ada raut wajah sedih. Ji Woong terus saja memeluk Young Ho melepaskan rasa rindunya. Young Ho berkaca-kaca melihat keduanya.

Esok harinya, Young Ho kembali berlatih dengan menahan tubuhnya memegang tali, sekuat tenaga bertahan agar tak terjatuh. Lalu berjalan dengan mengunakan tali pegas dibagian kakinya. Grafik perubahan meningkat, Young Ho masih duduk diatas kursi roda, lalu berdiri tegak melihat jendela dengan pemandangan kota New York dimalam hari. 

24 Desember 2015.

Kepala Min terkejut melihat Young Ho datang dengan membawa tas berisi sebuah syal berwarna pink, berjalan tegak mendekatinya. Ketika dimobil, Young Ho terus memegang syal buatanya, Ketua Min berkomentar warna Syal yang dibuatanya tidak terlalu Pink, Young Ho tersenyum melihatnya setuju dengan ketua Min.

“Ini adalah sebuah kehormatan untuk bisa menjemput anda lagi.” Ungkap Ketua Min

“Ah, kau mulai berlebihan lagi. Kau cukup mengatakan, "Anda sudah berhasil, anda hebat".” Kata Young Ho menatap kearah jendela.

Ketua Min menurut mengulang kalimat Young Ho “Anda sudah berhasil,Anda memang hebat.” Dengan senyuman Young Ho juga memuji Ketua Min sudah melakukan hal yang benar.

Young Ho membuka ponselnya, ada 192 pesan yang belum terbaca. Ia mengambil earphone menarik nafas dan membuka semua pesan yang dikirimkan Joo Eun.

Sebuah video dikirimkan oleh Joo Eun memberitahu kalau itu video yang ke 60 dan ia bisa melakukan gerakan Plank, Young Ho tersenyum melihatnya, Joo Eun mendekat ke kamera seperti sedang berbicara dengan Young Ho.

“Jangan khawatirkan aku! Kau harus lebih semangat lagi.” Kata Joo Eun dengan mengangkat kepalan tangan memberikan semangat.

“Apa kau pikir aku akan berhenti mengirimkanmu video? Tidak!!! Aku adalah Kang Joo Eun, wanita yang bisa melakukan apapun itu. Dan juga, jangan terlalu memaksakan dirimu dan menjadi sakit. Jangan khawatirkan aku. Aku hanya merindukanmu saja. Semangat!” Ucap Joo Eun tersenyum bahagia. 


Young Ho melihat jam tanganya menunggu didepan gedung, Joo Eun berjalan melihat Young Ho menganggapnya seperti bayangan saja, tapi ketika berusaha melaluinya malah tertabrak. Joo Eun mendongakan wajahnya, melihat kalau itu adalah Young Ho yang selama ini ditunggunya.


Keduanya saling menatap, Young Ho memasangkan syal buatanya, lalu menyapa Joo Eun yang sudah lama tak bertemu. Joo Eun menyentuh pipi Young Ho dengan ujung jarinya seperti menyakinkan kalau memang bukan bayangan, lalu melihat kaki Young Ho bisa berdiri tegak. Young Ho menghentakan kakinya agar menyakinkan Joo Eun kalau itu nyata.


Joo Eun berkaca-kaca melihatnya, Young Ho langsung memeluk Joo Eun yang selama ini sudah menunggu dan sangat merindukanya. Joo Eun menangis dipelukan Young Ho.

Young Ho menatap Joo Eun baru selesai menangis, Joo Eun mengungkapkan sepertinya situasi yang sangat romantis, lalu berpikir sejak ia lahir hari ini adalah hari paling bersyukur dan ingin makan sepuasnya. Young Ho mengeluh Joo Eun itu bicara tentang makanan setelah mereka bertemu.


Ponsel Joo Eun berbunyi, Joo Eun menerima telp dari Hyun Joon untuk segera ke kantor. Dengan wajah sedih memberitahu Young Ho kalau besok hari natal jadi ia harus mengirimkan dokumennya. Young Ho mengatakan akan menunggunya jadi mempersilahkan Joo Eun pergi.


Joo Eun berjanji akan pergi sebentar jadi meminta agar menunggunya, dengan khawatir mengusulkan untuk menunggu disebuah tempat agar tak kedinginan. Young Ho mengelengkan kepala hanya ingin menunggu ditempat mereka bertemu sekarang.

Young Ho menahan air matanya karena harus berpisah sejenak dengan Joo Eun, tiba-tiba tangan ditarik ternyata Joo Eun kembali datang menghampirinya. Joo Eun meminta Young Ho agar ikut denganya dan tak boleh jauh-jauh darinya. Young Ho tersenyum, Joo Eun terlihat menahan rasa haru bertemu dengan pacarnya kembali, keduanya bergandengan tangan pergi ke kantor hukum bersama.

Keduanya saling menatap ketika pintu lift terbuka, tangan Joo Eun tak mau dilepaskan dari Young Ho. Lalu Young Ho yang pertama kali menyadari kalau mereka sudah sampai, Joo Eun melihat sudah sampai lantai 15 dan mengeratkan pegangan agar tak terlepas dan megajak Young Ho masuk.


Soo Jin baru selesai membawa berkas, melihat Joo Eun bergandengan dengan Young Ho memasuki kantor, tak ada wajah sinis seperti dulu tapi senyuman bahagia melihat juniornya bisa kembali dengan Young Ho.


Hyun Jung langsung menghampiri Joo Eun yang baru datan lalu terkejut melihat pria disamping atasanya. Young Ho dengan ramah menyapa Hyun Jung sudah lama tak bertemu lalu menanyakan keadaan Joo Eun selama ini. Hyun Jung blak-blakn menceritakan Joo Eun selalu menangis tiba-tiba, berpikir atasnya itu sudah gila.


Joo Eun meminta Hyun Jung tak menceritakan cerita sedih seperti itu. Hyun Jung mengalihkan pembicaran dengan bertanya apakah Young Ho baru datang ke Korea, Young Ho membenarkan. Joo Eun menarik Young Ho agar cepat masuk keruangan tak ingin berlama-lama diluar, Hyun Jung  pun mengikutinya dari belakang 


Joo Eun terlihat binggung saat masuk ke dalam ruangan, genggaman tanganya tak terlepas lalu menanyakan kapan berkas Jung Young Hee harus dikirim. Hyun Jung memberitahu mereka harus segera mengirimnya karena besok Natal. Joo Eun berjanji akan mengirimnya secepat mungkin ketika pulang kerumah nanti. Hyun Jung dan akan segera pergi, Joo Eun kembali memanggil untuk mengucapkan selamat hari natal. Hyun Jung juga mengucapkan selamat natal pada keduanya lalu menutup pintu ruangan.

Joo Eun menyuruh Young Ho duduk karena ia akan mengambil berkas diatas meja, Young Ho menatap Joo Eun yang terburu-buru mengumpulkan berkas yang akan dibawanya, sampai salah satu berkas jatuh dilantai. Joo Eun berjongkok mengambil berkas yang jatuh dan melihat dengan jelas kaki Young Ho tak terlihat sakit. Sementara Young Ho meraba papan nama Joo Eun diatas meja.


Setelah memasukan semua berkasnya, Joo Eun mengulurkan tanganya kembali mengajak pacarnya untuk pergi. Young Ho meraihnya dan berjalan keluar dari ruangan.

bersambung ke part 2